Wonderfulkota.com -  Kelompok 84 Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sunan Kudus sukses menggelar kegiatan sosialisasi pencegahan perundungan (bullying) guna membangun ruang aman di lingkungan Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajr Nahdlatul Ulama (IPNU) bersama Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Demaan pada Jumat (14/08/2026). Mengusung semangat "Rangkul Teman, Stop Kekerasan, Kita Aman", kegiatan ini berfokus pada penguatan kesehatan mental dan solidaritas antaranggota organisasi.

Penyelenggaraan kegiatan ini didasari oleh urgensi menciptakan lingkungan organisasi yang sehat dan bebas dari segala bentuk perundungan. Melalui program kerja ini, para peserta diajak untuk mengenali serta memahami bahaya bullying, sekaligus membuka diri sebagai langkah preventif untuk mempererat solidaritas antaranggota.

Nauval Noor Chalim, selaku Ketua IPNU Desa Demaan mengungkapkan bahwa organisasi yang dipimpinnya sempat vakum cukup lama dan baru kembali aktif dalam dua tahun terakhir. Jumlah anggota yang minim serta pola interaksi yang belum sepenuhnya erat menjadi tantangan tersendiri. Ia menyebutkan bahwa budaya ketergantungan kader masih kerap terjadi, di mana kehadiran anggota dalam suatu acara sangat bergantung pada pengurus inti.

Sebagai langkah solutif, Nauval menilai pemberian wawasan mengenai Bimbingan dan Konseling (BK) sangat krusial bagi rekan dan rekanita. Pendampingan ini dibutuhkan agar para anggota lebih memahami diri sendiri, meminimalisir miskomunikasi, serta menjaga keharmonisan selama menjalankan program kerja organisasi.

Materi inti mengenai penciptaan ruang aman bebas perundungan disampaikan oleh Dina Amelia dan Risa Ramadhani. Dalam pemaparannya, mereka menekankan pentingnya membangun lingkungan yang membuat setiap individu merasa nyaman untuk berkembang tanpa ada rasa terpojok atau dikucilkan.

"Perundungan dapat menghambat pertumbuhan seseorang. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memilih lingkungan yang mendukung perkembangan diri ke arah positif tanpa terbawa arus negatif," ujar Dina Amelia saat menyampaikan materi.

Penyampaian materi tersebut diperkuat dengan penegasan bahwa pemahaman diri yang baik di dalam organisasi sangat efektif untuk menekan tingkat komunikasi beracun (toxic communication) serta menumbuhkan sikap saling menghargai antarkader.

Selain itu, materi ini turut diperkaya dengan penerapan teori Johari Window yang difokuskan pada dua area utama, yaitu Open Area (Area Terbuka) dan Blind Spot (Area Buta). Metode psikologis ini dipandu oleh Risa Ramadhani untuk membantu para kader meningkatkan keterbukaan informasi diri serta melatih kesiapan menerima umpan balik (feedback) yang konstruktif guna meminimalisir kesalahpahaman.

Rangkaian acara diawali dengan penayangan video edukasi tentang dampak buruk bullying serta narasi singkat sebagai pengantar untuk membangun pemahaman audiens. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi refleksi bersama yang melibatkan perwakilan KKN 84 serta anggota IPNU-IPPNU Desa Demaan.

Pada sesi tersebut, suasana sempat menjadi haru ketika salah satu peserta dengan terbuka menceritakan pengalaman pribadinya sebagai korban perundungan. Ia membagikan kisahnya hingga berada di titik terendah, namun berhasil bangkit berkat keteguhan hati yang mengubah pola pikirnya menjadi lebih positif untuk mencoba hal-hal baru tanpa memperdulikan perkataan negatif orang lain.

Sebagai penutup rangkaian acara, para peserta diajak untuk langsung mempraktikkan materi tersebut secara interaktif guna saling mengenal lebih dalam dan membangun keakraban organisasi. Kegiatan resmi ditutup dengan penulisan pesan saran serta motivasi untuk kemajuan organisasi ke depannya, serta penyerahan simbolis permen kaki sebagai bentuk dukungan nyata terhadap kepedulian kesehatan mental bersama.

Melalui kegiatan edukasi ini, KKN 84 UIN Sunan Kudus berharap para peserta mampu memperkuat solidaritas, mencegah perundungan, serta menjadikan organisasi sebagai ruang yang aman dan nyaman bagi seluruh anggotanya.


(Penulis: M. Manarul Albab, Kontributor KKN 84 UIN Sunan Kudus)